Sabtu, 30 Januari 2016

PEKERJAAN PALING BERKAH MENURUT RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM

Oleh: Al Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith

Suara-NU.com~ Imam Al Mawardi (ulama’ Syafi’iyyah) berkata, “Pokok mata pencaharian adalah, bertani, berdagang, dan pengrajin. Manakah yang paling baik? Terdapat tiga madzhab yang berpendapat. Yang paling benar adalah pendapat madzhab Syafi’i, yaitu perdaganganlah yang terbaik. Sedangkan menurut pendapatku, yang terbaik adalah bertani. Karena lebih dekat pada sifat tawakkal (bergantung pada Allah).” Asy Syasiy juga berpendapat seperti Al Mawardi. Begitu juga Imam Al Imraniy, penulis kitab Al Bayan, dan yang lainnya.

Al Imam An Nawawi berkata, “Dalam kitab Shahih Bukhariy, dari Al Miqdam bin Ma’diy Karib ra., dan dari Nabi Muhammad SAW. yang bersabda, “Tidak ada seorangpun yang lebih baik dalam menyantap makanan daripada menyantapnya dari pekerjaan tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Dawud AS. makan dari hasil pekerjaan tangannya sendiri.” Yang benar adalah yang disabdakan oleh Rasulullah SAW., yaitu pekerjaan tangan. Jika bertani adalah mata pencaharian yang paling baik dan utama, hal itu karena dihasilkan dari pekerjaan tangan dan di dalamnya terdapat sifat tawakkal seperti yang disebutkan oleh Imam Al Mawardi di atas. Selain itu dalam bertani terdapat manfaat secara umum untuk orang -orang Islam dan binatang ternak, serta biasanya memakannya tanpa perlu jual beli, maka dia akan mendapat pahala. Jika tidak mengerjakannya dengan tangannya sendiri, tetapi dengan tangan pembantu dan orang-orang yang diberi upah olehnya, maka mata pencahariannya dari bertani lebih utama, seperti yang kami sebutkan.

Jabir ra., mengatakan bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Tidaklah seorang muslim menanam melainkan setiap yang dimakan dari tanaman itu adalah dinilai sedekah baginya, setiap yang dicuri dari tanaman itu juga dinilai sedekah baginya, dan tidak seorangpun mencelanya kecuali dinilai sedekah baginya.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya. Di dalam riwayat Muslim pula disebutkan, “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, lalu dimakan oleh manusia, binatang ternak, dan burung, kecuali hal itu menjadi pahala sedekah baginya hingga hari kiamat.” Di dalam riwayat, “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman dan membajak sawah, lalu dimakan oleh manusia, binatang ternak, dan segala sesuatu, kecuali menjadi pahala sedekah baginya.” Hadits riwayat Bukhori Muslim, disampaikan oleh Anas. Dikutip dari kitab Syarah Al Muhadzab karya Al Imam An Nawawi.

Al Imam An Nawawi berkata, “Jika wafat seorang penanam, maka baginya pahala yang berkelanjutan, dimulai dari saat ditanamnya tanaman itu hingga mati. Bagi ahli warisnya juga pahala dari setiap buah yang dimakan tanpa ganti rugi semasa pohon itu menjadi haknya.”

Asy Syaikh Ibnu Hajar Al Haitamy dalam kitabnya Fatawa Al Haditsiyyah, beliau mengunggulkan pendapat yang mengatakan bahwa berdagang lebih utama daripada bertani. Setelah menyebutkan hadits-hadits yang menunjukkan keutamaan berdagang, beliau berkata, “Hadits-hadits ini mengarah kepada pendapat ulama’ Syafi’i ra., yaitu sesungguhnya berdagang lebih utama daripada bertani dan menjadi pengrajin. Begitu juga yang disebutkan bahwa beliau Rasulullah SAW. berdagang berkali-kali dan tidak pernah disebutkan bahwa beliau bercocok tanam atau sebagai pengrajin. Allah SWT tidak memilihkan bagi Nabi-Nya SAW kecuali yang paling utama. Sedangkan diantara pokok mata pencaharian yaitu, berdagang, petani, dan sebagai pengrajin, Dia (Allah) memilih untuk Nabi-Nya berdagang, bukan bertani atau sebagai pengrajin. Hal ini menunjukkan keutamaan berdagang. “

Saya (Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith) berkata bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa hasil usaha yang paling utama adalah harta rampasan yang diambil dari orang-orang kafir dengan jihad (perang). Dan itu adalah harta yang didapat Nabi SAW dan para sahabatnya. Disebutkan di dalam sebuah hadits, “Sesungguhnya Allah SWT menjadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku.”

Di tengah-tengah tulisannya, junjungan kami Al Quthbul Irsyad Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad ra., berkata, “Dan sebab mencari nafkah bisa dari pertanian dan bercocok tanam, serta perdagangan. Dan dalam perdagangan terdapat sesuatu yang membahayakan, lebih-lebih di zaman ini. Sedangkan pertanian dan bercocok tanam lebih kecil bahayanya dan lebih banyak manfaatnya bagi pelakunya dan bagi orang lain. Di dalamnya juga terdapat riwayat dan kabar yang menunjukkan keberkahan dan pahala yang berkesinambungan. Maka carilah nafkah melalui jalan ini dengan semampunya, karena kesibukan di dalamnya juga sedikit sehingga tidak memecahkan tujuan hati kepada Allah dan tidak banyak menyibukkan perkara duniawi. “

Imam Haddad juga berkata, “Pertanian menandingi perdagangan dalam keberkahannya, dan lebih dekat pada kehalalan. Disebutkan dalam firman Allah SWT., yang artinya kurang lebih, “Nafkahkanlah di jalan Allah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik. ” Ini adalah perdagangan. “Dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu”.(Al Baqarah: 267) Ini adalah pertanian.

Al Habib Ahmad bin Hasan Al Attas ra., berkata, “Perdagangan membutuhkan tiga sifat, yakni semangat, niat, dan tawakkal kepada Allah SWT. “

Sumber: Kitab Manhajus Sawiy, karya Imam Syafi’i Shoghir, Mufti Haromain, Al Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith ra.

Minggu, 17 Januari 2016

Bagi yang Mau Buka Usaha Perlu Baca Ini !

Tung Desem Waringin - detikFinance

Jakarta - Dalam memulai suatu bisnis, yang paling menghambat seseorang bukan modal ataupun ilmu tetapi adalah rasa takut menghadapi risiko. Apabila kita mau memulai bisnis harus belajar yang namanya menimbang risiko, dimana kita dapat tahu dan menilai berapa besar risiko yang akan kita hadapi ketika memulai bisnis tersebut.

Sering kali seseorang ingin memulai bisnis, yang menghambat mereka bukan karena kurang ilmunya, pengetahuan, atau bahkan kurang modal, melainkan rasa takut. Takut lah yang menghambat mereka untuk memulai bisnis, kalau kita mau mulai belajar bisnis alangkah baiknya kita mengenal satu yang namanya risiko.

Risiko dengan berisiko adalah berbeda, risiko ada 2 unsur, pertama besar kecil kemungkinan terjadinya, yang kedua adalah besar kecil akibatnya, bisa itu positif atau negatif.

Sedangkan berisiko apabila kita sudah menimbang risikonya, yaitu besar kecil kemungkinan terjadinya serta besar kecil akibat negatifnya dan positifnya. Ternyata risikonya tidak bisa kita terima, berarti bisnis tersebut berisiko.

Mari kita tes dengan angka, misalnya Anda mulai bisnis dengan kemungkinan berhasil 1:9. Maksudnya apa, Anda bisnis 10 kali berhasilnya cuma sekali, yang kesepuluh bangkrut. Kira-kira Anda mau atau tidak, tentu saja Anda berbicara tidak mau.

Kenapa tidak mau? karena Anda merasa kemungkinan gagalnya jauh lebih besar dan Anda tidak mau. Anda lupa menimbang apa yang perlu Anda timbang? Yaitu besar kecilnya akibatnya kalau terjadi.

Misalnya begini, kalau bisnis Anda gagal, Anda cuma bayar satu, tetapi kalau berhasil Anda dapat 50 kali. Mari sekarang kita hitung lagi, saya ulangi sekali lagi. Kalau Anda tidak berhasil efeknya paling buruk Anda bayarnya cuma satu. Tetapi sekali berhasil Anda dapat 50 risikonya, bisa Anda terima.

Mari kita hitung usaha Anda, 10 kali berhasilnya cuma 1. Berarti Anda gagalnya 9 kali dan Anda bayar satu, satu saja. Tetapi kalau Anda berhasil dapatnya 50 kira-kira mau tidak? Mau, berapa kali. Anda pasti mau sebanyak-banyaknya bisnis dengan kemungkinan berhasil 10 persen.

Karena kalau sekali berhasil Anda dapat 50 kali lipat dibanding kalau Anda gagal sekali. Sekarang ketika mulai bisnis kita akan selalu menimbang akan hal ini.

Kemungkinan berhasilnya berapa persen dan kemudian yang kedua adalah akibatnya apa? Kalau saya berhasil saya dapat apa? Tetapi kalau saya tidak berhasil saya bayar berapa. Berarti tergantung juga satu unsur lagi dari kondisi keuangan Anda.

Kalau kondisi keuangan Anda hari ini misalnya 20, Anda mainnya berapa? Misalnya Anda mainnya dua,dua,dua. Atau Anda mainnya satu,satu. Atau mainnya sepuluh, sepuluh dan Anda cuma main dua kali saja.Kalau kemungkinan berhasilnya 1:9 atau 10 persen, Anda cuma punya uang 20 Anda harus main dan mainnya satuan saja. Misalnya Rp 20.000.000 Anda mainnya Rp 1.000.000, Rp.1.000.000. Tetapi kalau Rp 100.000.000 Anda main Rp10.000.000, Rp10.000.000 .

Karena rasio keberhasilannya 1:9 main 10 kali 9 kali gagal dan 1 kali berhasil.Mungkin tidak ternyata luput Anda main Rp20.000.000 dan ikut Rp 1.000.000.Kalau sampai kalah 15 kali pun tidak masalah. Begitu ke 16 kali menang dan dapat Rp 50.000.000 baru seru. Dengan demikian ketika memulai bisnis Anda mulai tanya, risikonya apa.

Resiko yang paling bururk apa, misalnya resiko paling buruk saya kehilangan sejumlah uang sekian. Saya sudah rela, kemudian kemungkinan berhasilnya 50:50. Dan kalau saya berhasil dapatnya “Lima kali lipat”.Yang paling penting saya bisa main 3 kali sampai 4 kali. Sekali menang saya dapat 5 kali lipat.

Dengan memanage resiko seperti ini kita gali pertanyaan lagi. Misalnya begini, ketika mau mulai bisnis, akibatnya kalau saya bisnis ini saya kehilangan Rp100.000.000 , dan Rp100.000.000 masih bisa saya terima. Tetapi lebih baik Andatanya lagi supaya kalau Rp 1.000.000 kemungkinan resikonya jauh lebih kecil.

Ini bisa tidak pakai istilah bagi hasil. Tidak harus keluar modal terlebih dahulu, modalnya bisa dari orang lain terlebih dahulu atau dari suplier Anda.

Sehingga Anda tidak pakai modal dan kemungkinan Anda ruginya jauh lebih nol lagi karena sudah tanpa modal sama sekali. Kemudian Anda bisa “Konsinyasi” terlebih dahulu, akibatnya kalau Anda tidak laku Anda bisa kembalikan saja.

Pertanyaan kedua supaya kemungkinan berhasilnya jauh lebih besar setelah Anda mulai menimbang resikoAnda jangan lupa tanya kedua hal ini. Karena supaya akibatnya jauh lebih kecil, bisa tidak konsinyasi dulu atau bisa tidak ada garansinya.

Supaya kemungkinan untung jauh lebih besar, saya harus belajar dengan siapa. Ketika Anda menimbang seperti ini, hidup Andaakan jauh lebih berani ambil resiko. Karena resiko selalu ada dan bisa terjadi dimana-mana.

Memang di luar pemikiran kita, tetapi kalau kita bisa terima Anda mendengarkan CD saya ini Anda juga menyaksikan DVD ini. Pertanyaannya ada tidak risikonya? Bisa jadi rumah Anda di tabrak pesawat terbang dan Anda mati, mungkin tidak?Itu mungkin sekali dan pertanyaannya itu risiko dan ini kemungkinannya kecil.

Atau bisa juga saat ini jika Anda nonton ramai-ramai bersama saudara Anda mungkin tidak kemungkinannya dapat terjadi, atau resiko ini terjadi tetapi akibatnya kecil. Misalnya orang yang seruangan Anda kentut, pasti kan ada efeknya. Ya efeknya itu bau, kemungkinan terjadinya besar dan itu bisa kita abaikan.Sesuatu hal yang kita timbang ini kita tidak mampu menerimanya berarti resiko.

Anda mulai usaha dengan modal Rp 10 Miliar, duit Anda cuma Rp 2 Miliar. Yang 8 Milyar Andautang dengan caraAnda gadaikan rumah dan sebagainya, bahkan Anda hutang kepada mafia dan mafianya kejam sekali. “Awas ya saya tahu anak mu sekolah dimana kalau ada apa-apa nanti saya incar anakmu”. Kemudian Anda kerja sama dengan orang yang baru Anda kenal, dan orang tadi baru 2 bulan keluar dari penjara.

Bagi Anda bisnisnya beresiko tidak, tetapi dengan kondisi yang sama dan dengan kepemilikan hartanya lebih banyak. Misalnya Bill Gates modalnya Rp 10 Miliar kemungkinan berhasilnya hampir nol karena partnernya habis keluar dari penjara dan dia bergelut di dunia yang baru.

Bagi Bill Gates itu beresiko atau tidak beresiko. Saya simpulkan kalau Anda mau bisnis atau investasi pertimbangkan resiko atau beresiko.

Kalau risikonya ada dan Anda terima kemungkinan berhasil dan bisa Anda terima. Kalau Anda kena resiko lebih kecil maka akibatnya kecil. Dan juga siapa yang bisa bantu saya saya harus joint sama siapa dan sudah Anda timbang semua ternyata masih bisa terima risiko dengan misi kekayaan Anda.

Apalagi kemungkinan kalau menang dapatnya banyak.“Why not”.Makanya saya Tung Desem Waringin saya sering buka dan tutup perusahaan karena sudah menimbang resiko, kalau tidak jadi tutup dan kalau jadi meledak lebih besar.

Berikut adalah beberapa tipsmenimbang resiko dalam menjalankan bisnis yang saya dapat berikan bagi anda.

Semoga bermanfaat saya Tung Desem Waringin mengucapkan salam Dahsyat

Sabtu, 16 Januari 2016

Menjual Tanpa Membual

sumber : Jaya SetiabudiJuragan Forum Bersama Jaya Setiabudi


MENJUAL TANPA MEMBUAL
Saat belajar tentang ilmu selling, terutama bab “Sensational Offer” (penawaran heboh), ada yang gak sreg di hati saya.
Saya sendiri tak tega mempraktekkannya untuk menjual buku atau seminar pribadi saya. Karena di hati kecil saya, sangat takut mengecewakan orang. Saya berusaha menjaga index kepuasan diatas 90%.
Harga (yang dibayar) = Value (yang diharapkan/dijanjikan)
Penawaran yang sensasional akan menaikkan HARAPAN si pembeli. Saat pembeli mendapatkan lebih rendah dari yang dijanjikan, maka pembeli akan kecewa.
Sensasional dipopulerkan di Indonesia oleh seorang motivator ternama. Tekniknya adalah:
• Memberikan penawaran yang HEBOH, dengan segudang benefit.
• Mem-break-down biaya (samar) dari suatu produk/jasa hingga terlihat besar.
• Memberikan DISKON yang KONTRAS.
• Menambahkan BONUS yang (terlihat) banyak dan BUESARR (value-nya).
Sehingga saat menyimak penawaran tersebut, seolah harga yang dibayar konsumen menjadi kecil. Hal itu terbukti ampuh untuk mendongkrak konversi.
Kenapa teknik itu populer? Ya karena dapat mendongkrak sales dengan instan, tanpa ‘perlu’ membangun kredibilitas. Tapi jangan tanya apakah hal itu akan langgeng. Saya pribadi adalah ‘sebagian kecil’ dari konsumen yang alergi dengan cara seperti itu.
Lantas kenapa hati saya tak enak dengan hal itu?
Karena saya mengamati guru-guru saya tak melakukan hal itu dan tetap laris. Saya juga mengamati si motivator yang menggunakan cara tersebut, pamornya cepat meredup, saat konsumen mulai sadar telah ‘dibuali’. Apalagi dengan adanya pembanding yang lebih baik.
Kalo Anda mencari popularitas dan rejeki instan, cara tersebut bisa Anda tempuh. Kuncinya:
• Matikan Rasa Anda. Jangan pikirkan orang lain akan kecewa dengan ‘delivery’ yang tak sesuai dengan janji (yang muluk).
• Jangan berharap mereka menjadi pelanggan tetap.
• Terus carilah korban baru.
Cerita yang kontras, adalah salah satu dari guru si motivator tersebut, yang juga kebetulan guru saya, yang kemungkinan Anda tak kenal beliau. Namanya R.H. Wiwoho, Master Trainer NLP yang mendapat endorsement langsung dari kedua pendiri NLP, John Grinder dan Richard Bandler. Sering juga disebut sebagai Bapak NLP Indonesia.
Terakhir kali melihat iklan beliau di koran, sekitar 6-7 tahun lalu. Setelah itu tak pernah ngiklan lagi. Iklannya pun biasa saja, hanya menyebutkan benefit dan outline materi, tanpa ‘iming-iming’ berlebih. Saya mendaftar sebelum melihat iklan tersebut, karena referensi kuat dari senior saya, Pak Khrisnamurti.
Sekarang setiap ada pelatihan beliau, promonya hanya via sms ke alumni. Magic happen, kelasnya tetap penuh. Saya salah satu dari muridnya yang tukang nge-forward info tersebut.
Contoh kedua, guru meditasi saya, Pak Merta Ada baliusada.com, sudah 20 tahun lebih mengajar meditasi dan gak pernah ngiklan. Jangankan sepi, untuk mengikuti kelas dasar yang 7 hari 6 malam, Anda harus book 2 batch sebelumnya. Biasanya batch berikutnya sudah penuh.
Namun harus digaris bawahi: perlu waktu tahunan untuk mencapai tahap itu, apalagi di generasi mereka (tanpa socmed). Harusnya, di jaman socmed yang serba viral, tak perlu menunggu selama itu. Wanginya kebaikan dan busuknya kentut, tercium lebih cepat.
Pilih diri Anda dikenal sebagai orang yang menebar manfaat atau orang yang suka memanfaatkan? Garis merah dari Sales yang MEMBUAL dengan yang tidak adalah LOYALITAS. Akankah mereka membeli lagi dan lagi, tanpa bualan Anda berikutnya? Apakah pembeli berikutnya adalah pelanggan lama atau ‘korban-korban’ baru?
Jika produk baru Anda ditunggu-tunggu oleh pelanggan (lama), tak peduli seperti apa sales letter-nya, itulah LOYALITAS. Branding seseorang atau suatu produk, bukan dari LARISNYA penjualan saat itu, tapi dari angka repeat order pelanggannya.
Hal ini yang membuat saya meminta tim Yukbisnis meniadakan Sensational Offer untuk menjual Video Book Buka Langsung Laris.
Saya katakan, “Jika mereka PERCAYA kualitas karya saya, biarkan mereka membeli karya berikutnya tanpa persuasi”.
Bagaimana dengan pelanggan baru? Cukup kasih info apa adanya, tentu dengan susunan copywriting yang tepat. Biarkan mereka mencari/mendengar testimoni dari pelanggan puas lainnya. Testimoni (nyeplos) boleh dimasukkan, tapi bukan editan atau diminta.
“Copywriting bukanlah seni mengelabuhi orang, tapi bagaimana menyampaikan informasi hingga dimengerti oleh calon konsumen, sejelas-jelasnya”
Kualitas diri Anda akan didengar oleh orang lain, jauh sebelum Anda berjumpa dengan mereka. Itulah Kredibilitas.
Bisnis seperti lari marathon atau lintas alam, jangan habiskan ‘nafas’ Anda untuk meraih juara jarak dekat.